Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Artikel Lainnya

100 Puisi Terbaik Perhimpunan INTI

Friday, 01 Jun 2007





Juara I 

WAJAH NEGERIKU
Karya : S. Retno Indaryanti (Lie Phan)

Aku membuka mata kecilku
Gelap dan dingin, emak masih mendekap aku
‘aku mau main, mak!’
“tidak bisa Nak, langit sedang marah’.

Aku membuka mata kecilku besoknya
Gelap dan lebih dingin dan sangat pengap
‘aku ingin main, Mak!’ aku berbisik menggema
‘Nak, kita tidak lagi bisa keluar rumah’

Emakku mencari mulut kecilku, memberikan susunya
Aku mulai merasa hangat, ‘Emak takut?’ bisikku
‘Emak tidak ada waktu untuk ketakutan, Nak
Emak sibuk meminta ampun’

Kepala kecilku berdengung oleh suara Emak
‘kenapa lama sekali emak meminta ampun?’
‘Nak, banyak sekali nama yang harus emak sebut
untuk dimintakan ampunan pada Tuhan…….’

Aku membuka mata kecilku
Setitik cahaya mengintip menyilaukan,
Dan suara orang-orang ramai menggali rumahku
“Allah Maha Besar …..mereka selamat!”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku,
Aku melihat senyum terindah wajah emakku
Dan aku bernazar, suatu saat yang sama kelak……
Emak tidak menyebut namaku…….

 

Juara II 

SENANDUNG RINDU RADEN BUDIRING
Karya : M. Hasan Sanjuri

Melalui keperihan di lambungku, aku mencoba menyusun bahasa. Menari bersama asap dupa. Seakan-akan ruh para leluhur datang menjengukku. Menanyakan tentang keris pusaka dan tentang kematian yang disesalkannya. Ada cahaya bintang yang menyelinap di atas atap. Menggerak-gerakan sisa malam yang sempit. Aku tidak mengerti. Inikah yang disebut penyesalan? Kelewang, keris dan juga bambu runcing tetap tergantung di dinding yang tenta. Tiba-tiba kitab hasil pertapaan berhamburan. Membentk peta kegelisahan yang selama ini terpendam dalam kalbu.

Di jalan-jalan raya. Suara delman memecah sunyi. Roda-roda berpaling dari luka. Berputar. Seakan telah menemukan isyarat kebahagiaan di pinggir-pinggir jalan. Lalu kita menimbun kata-kata dari sisa pertempuran yang sia-sia. Ribuan anak balita bersila di sudut goa. Membaca garis perlawanan yang kita titiskan dalam dendam. Namun adakah di sana Tuhan membaca pikirannya? Sehingga kematian tidak perlu lagi disesalkan?

Aku menyaksikan orang-orang bernyanyi di televisi dengan lagu yang tak pernah diajarkan oleh nenek moyangnnya. Sebuah lagu yang tak mampu membangkitkan asmaraku untuk bercinta. Aku merindukan tubuhku lahir pada abad pertama dari putaran dunia. Berjumpa dengan adam yang masih meragukan dirinya manusia. Seorang pemuda menelepon kekasihnya di pagi buta. Adalah hawa menyisir rambutnya disana? Atau sedang bernyanyi untuk meredamkan perih setelah pembunuhan putranya? Tiba-tiba aroma firdaus yang kudus menampar sudut hatiku.

Purnama telah membagi cahayanya. Gerhana tersimpan dihatiku. Lalu kembali kusucikan tubuhku dengan baris-baris doa.

Bagaimana mungkin aku bisa menghentikan tetes airmata di pekarangan rumah sementara mimpi dari malam ke malam selalu berkemas diri untuk pergi dan meninggalkan luka baru di pelupukku. Hembusan angin begitu dingin memporak-porandakan istana yang kubangun di dadaku.

Tahun ini seakan-akan menunggu matahari pecah di ubun-ubun. Debu tetap menempel di lipatan baju. Tiba-tiba di selokan belakang rumah terdengar senandung lagu daerah mengalir dengan deras, mencari muara di hatiku. “di mana kemerdekaan itu?” teriak seorang lelaki dengan busur di tangannya. Tanah perbatasan-tanah perbatasan berapa purnama yang dibutuhkan untuk mengenalmu? Dalam buku harian kutulis namamu yang selalu terancam bencana.

Hari pertengahan musin hujan telah tiba. “Anakku negeri baru menunggumu”.

JUARA III 

 NYANYIAN SUNYI KEMISKINAN
Karya : Bayu Gautama

Tadi malam buta
Setelah matahari tidur
Aku menggadaikan nyawaku
Pada seorang lintah darat
Yang biasa mencekik orang-orang di kampungku
Aku ingin pagi nanti
Setelah matahari bangun
Aku bisa pergi ke pasar cicadas
Membeli tahu,
Kangkung,
Juga beras
Yang harganya semakin sombong
Tidak mau lagi bersahabat dengan orang-orang sepertiku

Tapi setelah pulang dari pasar aku pasti bingung
Uangku habis
Dan lusa esok
Nyawaku pasti sudah dijual lintah darat
Dan di beli saudagar kaya
Dengan harga lebih tinggi


Posted by: Admin