Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Tokoh INTI

Berkenalan dengan Tim Psikolog Beasiswa Pelangi

Thursday, 19 Apr 2012




Tak semua warga kelas menengah atas sibuk memburu materi. Di tengah kemapanan hidup, ada orang yang secara cuma-cuma memberikan kontribusinya untuk mencegah putus sekolah.

Jarum jam menunjukkan tepat di angka sembilan. Di suatu pagi yang cerah itu, ratusan anak telah berkumpul di Wisma Siti Maryam, Jalan Kedoya Raya Nomor 101, Jakarta Barat. Mereka datang dari berbagai sekolah menengah atas di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Anak-anak itu kompak berseragam rompi warna cokelat muda. “Beasiswa Pelangi, Cegah Putus Sekolah” tertulis di punggung rompi. Dalam posisi duduk bersila di lantai, mereka menyimak sebuah ungkapan yang ditampilkan di layar lebar. Layarnya menggantung di sisi kiri panggung.

Di hadapan ratusan anak tadi, seorang wanita muda tampil membacakan ungkapan yang sarat motivasi itu. “Untuk mengubah dunia, ubahlah dirimu terlebih dahulu,” kata Kartika menyimpulkan isi ungkapan. Dengan sepenggal ungkapan tersebut, ia lantas membuka sesi pengenalan diri dalam acara Gathering Pelangi ke-6 di ruangan seluas seratus meter.

Acara itu memang rutin diadakan tiap empat bulan sekali. Penyelenggaranya adalah Perhimpunan Indonesia Tionghoaa (Inti) DKI Jakarta. Dalam gathering kali ini, tim psikologi yang memandu jalannya acara. Namun, tak hanya Kartika yang menghidupkan acara yang berakhir dengan penyerahan beasiswa itu. Ia ditemani tiga rekannya yang juga memiliki latar belakang ilmu psikologi. Sangat relevan jika materi pertemuan kali ini mengusung tema “Me, Myself, and I”. Sebuah tema mengenai motivasi dan pengembangan diri yang diusung oleh Tim Psikologi Program Beasiswa Pelangi.

Suatu ketika di awal penyampaian materi, Fiona Arianti sebagai fasilitator materi, menanyakan kepada anak-anak mengenai kelemahan dan kelebihan diri mereka masing-masing. Terlontar pula pertanyaan tentang tipe kepribadian yang dimiliki setiap anak. Apakah introvert-ekstrovert, pengindera-imajiner, perasa-pemikir, ataukah teratur-spontan. Ada juga yang ditanya mengenai masa depan yang akan mereka raih. Sayangnya, dari ratusan anak yang hadir, banyak di antara mereka yang tak mampu menjawab. Ya, meski tipe kepribadian menjadi pengalaman masing-masing, namun menjawabnya bukanlah hal mudah.

Beranjak dari masalah itu, Fiona dan rekan-rekannya mulai membongkar kegalauan tersebut. Di acara gathering itu, anak-anak dididik untuk mengenali kelebihan dan kekurangannya. Ini sebagai langkah awal. Setelah mengenali dirinya, mereka dibimbing untuk menentukan bidang yang sesuai untuk ditekuni. “Kalau sejak dini, sejak masa-masa SMA ini mereka sudah tahu tipe kepribadiannya apa, mereka jadi bisa tahu kan kelebihannya apa, kekurangannya seperti apa. Dengan begitu, mereka bisa fokus, mengambil pekerjaan yang sesuai dengan tipe kepribadiannya,” jelas Fiona. S

Posted by: Admin