Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Artikel Lainnya

Ir Tomi Wistan: Doa, Kekuatan dan Semangat

Monday, 17 Sep 2007




Ir Tomi Wistan, 35 tahun. Usianya boleh dikatakan cukup muda ketika diangkat menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Serdang Bedagai. Ia pun merupakan Ketua Kadin termuda di Indonesia, sekaligus ketua pertama di Sumut dari etnis Tionghoa. “Semangat. Segala sesuatunya harus diawali dengan semangat,” kata putra kedua dari delapan bersaudara pasangan Budi Wistan dan Lo Siu Hwa ini.

Walau usianya masih muda, namun kemampuannya dalam memenej pertumbuhan karirnya di pekerjaan dan bidang keorganisasian, cukup menggembirakan. Ia banyak terlibat dalam organisasi kemasyarakatan baik di bidang keagamaan, kebudayaan, olahraga dan kepemudaan maupun kesehatan. Bahkan, ia sangat dikenal cukup aktif dalam memperjuangkan pemekaran Kabupaten Serdang Bedagai dari Kabupaten Deliserdang.

Menjadi Ketua Kadin Serdang Bedagai diakuinya bukan sekadar mencalonkan diri karena dorongan rekan-rekannya, tetapi harus dibarengi semangat dari dalam dirinya sendiri.”Saya merasa seakan-akan ada yang mendorong saya untuk mencalonkan diri. Dorongan itu demikian kuat sekali. Saya sudah pelajari lebih jauh tentang bagaimana sebenarnya fungsi dan peranan Kadin, dan saya menginginkan adanya perubahan-perubahan dalam memenej Kadin Serdang Bedagai agar imej sebagian masyarakat selama ini, yang mengatakan pengurus Kadin hanya sebatas meminta-minta proyek, dapat dirubah. Saya ingin menciptakan paradigma baru dalam tubuh Kadin,” kata suami Rosmalina dan ayah dari Olivia Y Wistan dan Kent Louis Y Wistan ini.

Apakah yang Anda capai saat ini merupakan bagian dari keberhasilan menerapkan filosofi semangat tadi?

Ya. Saya menyadari bahwa semangat itulah yang mendorong saya untuk maju dan mendapatkan kedudukan sebagai ketua.

Bisa Anda jabarkan lebih detil tentang filosofi semangat yang Anda sangat tekuni ini?

Sejak mulai bersekolah, saya sudah miliki semangat bersekolah. Kalau kita tidak memilikinya, bagaimana kita bisa menyelesaikan pendidikan di sekolah dengan baik. Begitu juga di saat kita memulai sebuah usaha, kita harus memiliki semangat untuk menjalankan usaha itu.

Kenapa Anda harus memulai sesuatu dengan semangat?

Karena, jika tanpa semangat, saya tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan. Bagi saya, tanpa semangat, kita tidak bisa tumbuhberkembang.

Bagaimana Anda membangun semangat di dalam diri Anda?

Semangat itu, saya bangun dengan pondasi kekuatan. Maksudnya, apabila suatu saat mengalami kegagalan atas perjuangan yang ingin saya capai, saya benar-benar sudah siap. Tanpa adanya kekuatan, tidak dapat memacu semangat kita untuk mencapai sebuah tujuan. Kemudian kita harus punya pandangan ke depan, bagaimana perencanaan-perencanaan yang kita jalankan bisa mencapai tujuan.

Anda setuju, sebelum mengedepankan semangat, kita harus lebih dulu mempersiapkan mental?

Pasti, saya setuju itu. Makanya harus kuat lebih dulu. Yang paling penting adalah, berdoa kepada Tuhan. Supaya kita senantiasa diberikan kekuatan.

Siapa yang menginspirasikan Anda tentang filosofi semangat tersebut?

Inspirasi itu datangnya dari diri sendiri. Kemudian, dari keluarga. Semangat yang datangnya hanya untuk diri sendiri juga tidak baik. Yang tepat adalah, bagaimana semangat kita itu bisa mendapatkan dukungan dari lingkungan. Karena, lingkungan pun sangat berperan dalam mendukung keberhasilan akan perencanaan-perencanaan yang ada dalam semangat hidup kita. Jadi, dengan semangat yang ada, kita juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan di mana kita berada.

Sejak kapan Anda menyadari hal ini?

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah menyadari bahwa semangat itu memang sangat dibutuhkan dalam hidup kita ini.

Apa yang dicapai dari semangat yang Anda tanamkan sejak duduk di bangku sekolah dasar?

Hampir segala kesulitan yang saya hadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik pekerjaan maupun pendidikan dapat saya lalui dengan baik.

Bagaimana peranan orangtua dalam mengemas semangat hidup Anda?

Orangtua saya banyak berperan mengarahkan saya untuk tidak memupuk semangat yang justru kesannya kebablasan. Jadi, ketika orangtua sudah melihat ada arah yang tidak jelas, maka mereka berusaha untuk melempangkannya. Biasanya begitu. Namun ketika saya sudah memasuki fase kedewasaan di mana saya sudah kuliah, orangtua memberi saya kebebasan untuk mandiri.

Sering kumpul dengan orangtua?

Sering. Seminggu sekali ketika masih anak-anak, kami makan bersama. Di saat

Posted by: Admin