Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Artikel Lainnya

Kuncoro Wibowo : Sebuah Fenomena Entrepreneurship

Monday, 16 Feb 2015




 

Dari satu toko kecil di kawasan Glodok warisan sang ayah, Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya berhasil membangunnya menjadi kerajaan bisnis perkakas terkemuka di Asia Tenggara. Bagaimana usaha ini bisa meraksasa?

Alex Widjaja, pemilik toko di Kawasan Glodok, mengaku tak pernah membayangkan kalau salah satu keluarga pemilik toko alat pertukangan yang telah lama menjadi tetangganya bisa sukses memiliki perusahaan besar. Pasalnya, dulu toko milik Wong Jin (almarhum), tetangga dan temannya itu, tak lebih istimewa dari toko-toko lain di sana, termasuk toko Alex sendiri. Yang ia tahu, putra-putra Wong Jin memang rajin dan mau bersusah payah membantu ayahnya berdagang di toko. "Mereka anak-anak muda pekerja keras," tutur Alex yang tahun ini genap berusia 62 tahun. Alex mengaku ikut gembira dan takjub mengetahui putra-putra sobatnya itu kini telah berhasil membangun bisnis berskala besar dengan bendera Grup Kawan Lama (GKL). Ketakjubannya makin bertambah setelah diberitahukan bahwa gerai Ace Hardware dan Index yang mulai bertebaran di Jabotabek, ternyata juga milik keluarga kawan lamanya itu.

 

Boleh jadi, bukan hanya Alex yang cukup terkejut dengan perkembangan bisnis GKL, tapi juga sejumlah pedagang Glodok yang tokonya berdekatan dengan toko milik Wong Jin. Maklum, puluhan tahun lalu, bisnis keluarga ini bisa dibilang tak ada apa-apanya. Bayangkan. Tahun 1960-an, toko kecil yang berdagang perkakas teknik ini tak berbeda dari toko-toko sejenis lainnya di Glodok. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, dan tampilan ruangannya sederhana, bahkan terkesan kusam dan gelap. Di toko itulah Wong Jin yang warga Tionghoa, selain mencari nafkah juga mengajarkan kepada anak-anaknya -- terutama anak lelaki tertuanya, Kuncoro Wibowo -- tentang bagaimana berdagang dan melayani pembeli, serta bagaimana bekerja keras dan belajar. Toko kecil itu sendiri sudah dibuka Wong Jin sejak tahun 1950.

 

Roda kehidupan memang berputar. Terbukti di tangan generasi kedua -- Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya -- GKL menjelma menjadi perusahaan besar yang menguasai bisnis perdagangan perkakas di Indonesia. Produk yang dipasarkan tak kurang dari 20 kategori dan meliputi lebih dari 60 ribu item. Sekitar 90% produk yang dijual GKL ini merupakan produk impor yang diproduksi perusahaan perkakas besar dunia.

 

Keistimewaan GKL terutama karena mampu keluar dari kerumunan para pemain di bisnis distribusi produk perkakas dengan menunjukkan kelasnya sendiri. Bukan rahasia lagi, hampir semua pemain distribusi perkakas teknik di Indonesia adalah perusahaan kelas toko alias UKM yang banyak terdapat di bilangan Kota (Jakarta). Sulit menyebutkan bisnis mereka sebagai bisnis korporasi. GKL-lah yang paling sukses melewati kerumunan itu. ”Di Asia Tenggara, kalau Anda bandingkan dengan perusahaan distributor dan showroom perkakas lain, kamilah yang terbesar dan paling lengkap," ujar seorang eksekutif Kawan Lama. Tampaknya klaim sang eksekutif GKL itu tak berlebihan. Berbeda jauh dari para kompetitornya yang hampir semua masih menempati toko atau ruko, GKL sudah punya banyak gerai, showroom, dan kantor pusat sendiri yang cukup mentereng.

 

Di gedung yang dijadikan markas besarnya itu GKL membuka showroom untuk displai produk seluas 2.000 m2. Showroom dilengkapi dengan sistem katalog yang terkomputerisasi sehingga sangat memudahkan visualisasi produk ke calon pembeli. Kehadiran perangkat canggih itu juga memungkinkan simulasi dan testing produk bagi calon pembeli yang ingin menjajal produk. Showroom ini dikelola salah satu anak usaha GKL yang paling tua, yakni PT Kawan Lama Sejahtera, yang kini diperkuat sekitar 1.200 karyawan.

 

Yang tak kalah menarik, jumlah produk yang dipasarkan (termasuk yang diageni) GKL sekitar 130 merek. Hebatnya, GKL hanya mau mengageni merek-merek perkakas tiga besar (the big three) dunia. Malah, untuk mengageni merek yang punya pasar besar, GKL mendirikan perusahaan tersendiri (dedicated). Misalnya ada PT Indo Kompressigma untuk mengelola penjualan produk kompresor udara paling top di dunia dari Jerman bermerek Kaeser. Lalu, PT Miller Weldindo memasarkan mesin las asal Amerika Serikat bermerek Miller. Ada pula PT Kawan Lama Multiweldindo, pemegang lisensi pemasaran me

Posted by: Admin