Selamat datang di website Perhimpunan INTI

INTI Medan

PERHIMPUNAN INTI GELAR WAYANG DEWI KUNTI

Wednesday, 22 Dec 2010


Sebagai seorang ibu, Dewi Kunti, Permaisuri Prabu Pandu Dewanata, Raja Hastinapura, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Kelima anaknya, Pandawa Lima, maupun Karna yang tinggal di Kurawa tumbuh sebagai para ksatria negara di dua kerajaan berbeda. Sebagai ibu, Dewi Kunti pun bergeming dengan kasih sayangnya, meski Pandawa Lima dengan Karna terlibat konflik saat Kerajaan Hastinapura dengan Kurawa berada di ambang Perang Baratayudha. Kuntipun berjuang keras untuk mendamaikan Pandawa Lima dengan Karna.

Cerita tokoh Dewi Kunti dari epos Mahabarata itu, disuguhkan dalam Pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati Hari Ibu, pada Rabu, 22 Desember Pukul 17.00 WIB, hari ini  di Restoran Raja Kuring, Jalan Kakap Nomor 5, Penjaringan, Jakarta Utara.  Pagelaran wayang kulit ini akan terasa asyik karena dibawakan oleh Dalang Tee Thiam Hauw dari  provinsi Jawa Tengah.

Para hadirin yang akan hadir adalah para undangan dari Pengurus Perhimpunan INTI Pusat, DKI Jakarta, para budayawan, para pegiat pers mahasiswa, para santri, para pemuda pejuang demokrasi, dan para peneliti sosial, budaya dan politik.

“Dewi Kunti itu putri Prabu Kuntiboja. Ia terkenal karena kecantikan dan budi baiknya,” tulis Dalang Tee Thiam Hauw dalam press releasenya.

Semasa kecil, tambah sang dalang, Dewi Kunti diberi hadiah mantra suci oleh seorang resi,yang merasakan kebaikan budi selama tinggal di rumah sang dewi. Dengan mantra suci itu, konon Dewi Kunti bisa memanggil seorang dewa dan bisa meminta diberi anak dari sang dewa yang dipanggilnya.

Alkisah, karena keingintahuannya, Dewi Kunti membaca mantra suci pemberian sang resi, dan menyebut nama Dewa Surya, Dewa Matahari, untuk meminta anak. Dewi Kuntipun hamil, saat masih berstatus gadis, namun ia tetap menjadi gadis, lantaran anak yang dikandungnya lahir melalui telinga, dan karena itu diberi nama Karna. Namun untuk menghindari rasa malu, keluarga Prabu Kuntiboja melarung jabang bayi itu di sungai, hingga ditemukan seorang pemilihara kereta kuda alias sais dari Hastinapura.

Dewi akhirnya berhasil dinikahi oleh Prabu Pandu Dewanata dari Kerajaan Hastinapura ,sang pemenang kompetisi kedigdayaan.  Bahkan, seorang kontestan yang mengakui ketangguhan Pandu Dewanata dalam perhelatan itu,  menghadiahkan adik gadisnya bernama Dewi Madri.  Jadilah Pandu Dewanata memiliki dua istri yang cantik jelita, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madri.

Namun niatan Pandu Dewanata untuk mendapatkan keturunan tak semulus impiannya. Pandu tak dapat memberi nafkah batin kepada kedua istrinya karena  terkendala oleh kutukan seorang resi yang tewas bersama istrinya terkena anak panahnya. Pandu Dewanata tidak mengetahui jika sepasang kijang yang tengah berhubungan badan itu adalah jelmaan sang resi dan isterinya. Kondisi ini membuat Pandu Dewanata bersedih, lantaran memikirkan siapa kelak yang akan menggantikan dirinya menjadi raja.

Di tengah kekalutan sang prabu, tulis Dalang Tee Thiam Hauw, Dewi Kunti menceritakan mantra sakti hadiah seorang resi. Kabar itu seketika membuat Pandu Dewanata menemukan kembali harapan.  Ia pun meminta agar Dewi Kunti dan Dewi Madri membaca mantra agar dikaruniai anak. 

Menjawab permintaan suaminya, Dewi Kunti pun menggunakan mantranya untuk mengundang Batara Dharma (Dewa Keadilan), Batara Bayu (Dewa Angin) dan Batara Indera (Dewa Halilintar). Dewi Kuntipun dikaruniai tiga anak, yaitu Yudhistira, Bhimasena (Werkudara) dan Arjuna (Janaka). Sedangkan Dewi Madri mengundang dewa kembar, Batara Aswin, akhirnya melahirkan anak kembar, yaitu; Nakula dan Sadewa. “Total “anak” dari Pandu Dewanata lima orang, dan dikenal dengan Pandawa Lima,” terang sang dalang dalam rilisnya.  


Kasih Ibu Diuji

Ketika ketiga anak Kunti yang terakhir tumbuh menjadi manusia dewasa dan mewarisi tahta Prabu Dewanata, Karna anak “pra pernikahan” pun sudah menjadi pejabat penting di Kerajaan Kurawa. Ia pun sudah mengetahui bahwa ibunya adalah Dewi Kunti. Keempat anak Kunti ini tumbuh menjadi manusia berkarakter ksatria, dan berbudi pekerti. Namun karena berada dalam dua kutub kerajaan yang tengah berkonflik, kondisi ini menjadi dilema buat Dewi Kunti. Karna anak sulungnya menjadi pembela terdepan kerajaan Kurawa. Hal itu berarti siap mempertaruhkan nyawa demi membela negara (kerajaan: RED.) Kurawa dalam perang melawan adik-adiknya dari Hastinapura.Terlebih, baik Karna, maupun Pandawa Lima sama-sama memiliki alasan yang benar.

Kesetiaan Karna dalam cerita epos Mahabarata ini menginspirasi sejumlah tokoh nasional di negeri ini, salah satunya  mendiang Presiden Soekarno, yang pecinta wayang, dan dijadikan sebagai idola.

Di sinilah, kasih sayang seorang Kunti sebagai

Posted by: Admin