Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Tokoh INTI

Sasmita Winata

Friday, 20 Jul 2007



Pasar pelelangan ikan itu tampak sepi. Sudah dua jam sejak lelang berakhir. Menyisakan bau amis bercampur busuk, menusuk hidung. Tak jauh dari tempat itu, rumah-rumah gubuk berhimpitan. Dibangun seadanya dengan triplek, plastik, dan bambu. Jalan becek dan kotor. Permukaan air laut memang lebih tinggi. Membuat kampung di kawasan Muara Baru itu sering tergenang.

Di sudut-sudut pasar terlihat segerombolan manusia. Tanpa pakaian, hanya bercelana pendek. Mengais-ngais sisa pasar ikan. Potongan ikan-ikan bekas yang dibuang, kadang setengah busuk, dikumpulkan dalam kantung plastik. Itu makanan mereka sehari-hari.

Tiba-tiba kelompok itu bubar. Mereka lari bersembunyi saat melihat orang-orang berpakaian bersih mendatangi tempat mereka. Wajah mereka menunjukkan perasaan takut dan cemas.

“Bayangkan masyarakat yang hidup seperti itu!” Mata Sasmita Winata menerawang. Mengingat lagi kejadian delapan tahun lalu saat ia menjadi salah satu tim dalam Rukun Warga di Muara Baru, Jakarta Utara. Pemukiman kumuh di pasar pelelangan ikan itu adalah kampung yang ia survei untuk kegiatan pengobatan gratis. “Mereka hidup jauh dari kenyataan yang kita jalani setiap hari. Jangankan membayar obat kala sakit, makanan saja mereka dapat dari tempat sampah.”

Bersama Perhimpunan INTI DKI Jakarta, pria yang saat itu masih berbisnis alat-alat safetywear di sebuah ruko ini mensponsori pengobatan gratis pada penduduk di sekitar pasar pelelangan ikan. Ia cukup terkejut ketika tahu nilai nominal yang dikeluarkan untuk mengobati 800 pasien ternyata sangat terjangkau. “Itu karena kita hanya beli obat-obatannya saja. Tim dokternya yang berjumlah sekitar 20 orang, betul-betul relawan. Mereka tidak dibayar,” tuturnya.

Pengalaman ini sangat berkesan bagi Sasmita. “Rasa bahagia itu tak terbeli,” katanya. Apalagi saat acara pengobatan gratis, seorang temannya yang juga pengusaha langsung berkomitmen untuk menyumbang tiap kali Perhimpunan INTI DKI Jakarta mengadakan pengobatan gratis bagi masyarakat yang kurang beruntung. “Banyak teman-teman saya langsung mau ikut menyumbang ketika melihat kegiatan ini,” katanya.

Menurut Sasmita, kegiatan itu nyata, langsung dirasakan oleh yang membutuhkan dan jelas tujuannya. Walaupun saat itu ia masih pengusaha muda yang baru memulai bisnisnya, ia senang karena berkesempatan melakukan banyak kegiatan sosial bersama Perhimpunan INTI DKI Jakarta. “Kegiatan semacam ini harus terus didukung....” paparnya bersemangat.

Pengalaman mengharukan bersama Perhimpunan INTI DKI Jakarta memang banyak dialami pria yang kini menjabat sebagai Presiden­Direktur PT Jakarta Kemayoran Properti ini. Selain pengalaman pertamanya berpartisipasi dalam pengobatan gratis di pasar pelelangan ikan, Sasmita sangat terkesan dengan pengalamannya di sebuah desa di Kuningan, Jawa Barat. Belum pernah ia melihat penduduk yang begitu ramah-tamah menyambut tim medis. “Mereka membawa hewan ternak, kambing dan ayam, sebagai tanda terima kasih!” ia tergelak.

Selain itu, ia menyaksikan sendiri bagaimana Dr. Lie A. Dharmawan mengoperasi seorang penderita tumor di perut yang sudah sangat parah. Pria yang sudah berbulan-bulan tidak bisa bangkit dari tempat tidur itu akhirnya mendapatkan perawatan yang dibutuhkannya sampai sembuh.

Sasmita terkesan dengan banyaknya donatur yang kala itu berebut untuk membiayai perawatan lanjutan bagi pasien tersebut, termasuk anggota Perhimpunan INTI Cirebon dan Kapolres Kuningan, Kombes Pol. Hasannudin. “Sejak saat itu saya yakin, banyak orang yang mau menyumbang. Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana, ke mana, dan kepada siapa. Kegiatan Perhimpunan INTI semacam inilah jawabannya. Ini nyata dan tanpa pamrih!”

Perasaan harunya makin bertambah ketika seorang dokter senior warga negara Hongkong yang ikut dalam kegiatan sosial itu mencucurkan airmata. “Sudah puluhan tahun saya bekerja sebagai dokter, tapi apa yang saya lakukan tidak ada artinya dibandingkan dokter-dokter muda yang menjadi relawan di sini,” Sasmita bertutur lambat menirukan ucapan temannya itu.

Kemayoran Sokong Perhimpunan INTI
Sasmita mengaku senang ketika Sek­retariat Perhimpunan INTI pindah ke kom­plek Mega Glodok Kemayoran (MGK). MGK memang di bawah pengelolaan PT Jakarta Kemayoran Properti. “Sekarang Perhimpunan INTI bisa lebih efisien melakukan kegiatannya,” ia tersenyum. Sasmita tahu kegiatan Perhimpunan INTI sangat bermanfaat. Selain kegiatan sosial, Perhimpunan INTI juga sering mengadakan seminar dan diskusi yang mencerahkan. “Sekarang tidak perlu lagi sewa tempat untuk mengadakan seminar, bedah buku, diskusi, dan lain sebagainya.”

Rasa syukurnya ia wujudkan dengan MoU (memorandum of understanding) yang akan segera ditandatangani. “Akan diberikan harga spesial untuk setiap acara Perhimpunan INTI!” paparnya. Juga untuk o

Posted by: Admin