Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Artikel Lainnya

Siauw Giok Tjhan Yang Tidak Lagi Dikenal

Tuesday, 09 Sep 2014




Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada segenap keluarga besar Siauw Giok Tjhan, segenap panitia acara 100 tahun Siauw Giok Tjhan serta para alumni Universitas Res Publica (Ureca) yang telah memberikan kesempatan untuk menuliskan pandangan saya sebagai anak muda tentang Siauw Giok Tjhan. Sungguh sebuah kehormatan yang tidak terkira.

Semua bermula pada awal April 2014 lalu, beberapa hari setelah Pengurus Pusat GEMA INTI (Generasi Muda Indonesia Tionghoa) menyelenggarakan Diskusi Terbuka 100 Tahun Siauw Giok Tjhan di Sekretariat Perhimpunan INTI, Jakarta. Pak Tan Swie Ling menghubungi saya melalui telpon, beliau menjelaskan saat ini ia dengan beberapa teman sedang menyiapkan materi untuk menerbitkan buku 100 Tahun Siauw Giok Tjhan. Dan saya sebagai anak muda diminta untuk ikut membuat tulisan juga tentang Siauw.

Waktu itu saya langsung mengiyakan saja, karena sungkan dan tidak berani menolak permohonan beliau. Pertanyaan saya kepadanya waktu itu hanya satu, “Kapan deadline-nya, pak?”. Padahal dalam hati, saya agak bingung karena jujur saja saya sendiri masih terbata-bata mengenal sosok Siauw. Siauw yang saya kenal hanya melalui tulisan dan cerita yang dikisahkan oleh para alumni Ureca yang kebetulan banyak bersentuhan langsung di Perhimpunan INTI dan Beasiswa Pelangi, di mana saya menjadi salah satu pengurus aktifnya.

Akhirnya saya memutuskan tulisan yang nanti akan saya buat adalah sebuah tulisan mengenai pandangan anak muda masa kini tentang Siauw Giok Tjhan. Tidak akan terlalu banyak membahas tentang sisi historis ketokohan dan perjuangannya, karena saya sendiri tidak mengenal dan berinteraksi dengan pribadinya langsung. Apalagi tentang perjuangan dan pergerakan politiknya, saya rasa para sejarawan akan lebih paham dan detil dalam menuliskannya.

Layaknya menulis sebuah tulisan tentang seorang tokoh, hal pertama yang saya lakukan adalah membuat sebuah survey kecil tentang Siauw. Ini saya lakukan salah satunya juga karena saya dihinggapi rasa kekuatiran. Kalau-kalau tulisan yang nanti saya buat akan menjadi tidak objektif, karena saya dekat sekali dengan beberapa pengikut Siauw yang menjadi pengurus di Perhimpunan INTI dan Beasiswa Pelangi. Semua cerita yang saya dengar tentang Siauw selalu tentang kisah kehebatannya khususnya cerita heroiknya dalam mendirikan Ureca.

Tetapi pada perjalanannya, kekuatiran tersebut berubah menjadi sebuah rasa miris yang bahkan boleh dibilang sebagai ironi yang menyedihkan. Siauw Giok Tjhan, pendiri Baperki dan Universitas Res Publica (Ureca). Seorang tokoh besar di masa lalu yang memberikan warisan pemikiran tentang kebangsaan untuk Indonesia dan etnis Tionghoa khususnya. Namanya sekarang menjadi sangat asing di telinga anak-anak muda Indonesia, sedikit sekali yang mengetahui bahkan mengingat tentang ketokohan dan perjuangan besarnya di masa lalu.

Ini berdasarkan hasil survey yang saya lakukan ke beberapa anak muda. Dari 30 orang yang ditanya, hanya 2 orang yang tahu siapa itu Siauw Giok Tjhan. Emang dia siapa, begitu jawab mereka rata-rata yang tidak mengenalnya. Sempat juga di Facebook saya meng-update status bertuliskan, “Siauw Giok Tjhan?”. Seorang teman kecil dari SD lalu malah menuliskan komentar, “Itu nama Tionghoa lu ya, Can?”. Ia berpikiran seperti itu karena ada kata Tjhan di belakangnya, yang ia pikir dari nama saya Candra.

Rezim Orde Baru tampaknya berhasil betul merobek kisah Siauw dari lembaran catatan perjalanan bangsa Indonesia. Siauw seperti terhapus dalam ingatan sejarah bangsa ini. Walau ada banyak buku dan literatur yang menuliskan kisahnya, tapi keinginan anak-anak muda untuk mencari tahu lebih dalam nyalanya redup saja seperti lampu tempel yang kurang minyak.

Theresia Stefanus salah seorang pengurus GEMA INTI ketika diajak berbicara mengenai sosok Siauw yang tidak dikenal oleh generasi sekara

Posted by: Admin