Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Artikel Lainnya

Sumadi Kusuma

Sunday, 15 Feb 2015




Pepatah mengatakan, hal besar dimulai dari yang kecil. Agaknya prinsip ini yang dimiliki seorang SUMADI KUSUMAdalam menjalankan usahanya. Tak pandang gengsi, ia mulai usaha kargo internasional dari berkantor di bawah pohon.

Sumadi lahir di Medan, lebih dari setengah abad yang lalu. Semasa SMA ia sudah terbiasa membantu pamannya, seorang pemasok karet gelang. Karet gelang ini dipasarkan di wilayah Medan dan Jakarta.

Lulus dari SMA di tahun 1973, Sumadi mencoba usaha kecil-kecilan dengan seorang teman. Menjadi pemasok untuk PTP, sebuah pabrik produksi karet. Kebetulan Sumadi kenal dengan PTP III, salah satu pabrik karet di Medan. Usaha kecil-kecilan ini berkembang menjadi kerjasama khusus produksi karet gelang. Akhirnya Sumadi menghubungi pabrik produksi karet gelang bermutu tinggi yang kemudian ia pasok kepada pamannya untuk dipasarkan di Jakarta dan Jawa. Disini tampak sudah modal tekad dan kreativitas yang dimilikinya.

Setiap bulannya, ia bisa menyediakan ratusan ton karet gelang untuk dipasarkan ke pabrik-pabrik di Jwa dan Jakarta. Hasil pertama dari usaha ini ia belikan sebuah sepeda motor vespa. Pamannya khusus mengirim vespa ini dari Jakarta ke Medan. Sungguh sebuah prestasi dan kebanggaan bagi seorang bujangan. Disini Sumadi makin mantap untuk memulai bisnis mandiri.

Memasuki Bisnis Kargo

Angin tampaknya membawa bisikan perubahan. Suatu hari, sepasang suami istri yang sedang berbulan madu berjumpa dengan Sumadi. Sumadi berteman dengan istrinya, kebetulan juga ia menantu dari pemilik pabrik karet di Medan. Jamuan makan pun diadakan. Pembawaan Sumadi yang murah senyum, ramah dan menyenangkan membuat Sumadi mengenal suami temannya lebih jauh. Ia adalah William Chong, seorang pebisnis Air Cargo (Angkutan Udara) yang besar. Tepatnya Global Air Freight di Singapura yang sedang berencana mengembangkan bisnis di Indonesia. Chong mengajak Sumadi bergabung. Merasa tidak mempunyai pengalaman apa-apa di bidang kargo, Sumadi mengenalkan Chong ke teman-temannya. Saat itu ia hanya berani menjadi investor.

Sayangnya, satu tahun lebih bisnis baru itu tidak berkembang, malah mengalami rugi. Merasa bertanggungjawab dan berbeban moral, Sumadi memutuskan untuk terjun sendiri menangani bisnis kargo ini. Di benaknya tertanam keyakinan bahwa bisnis kargo merupakan bisnis jasa yang dibutuhkan semua orang. Seharusnya bisnis ini bisa maju asal dikelola dengan tepat. Keyakinan ini membawa Sumadi merantau ke Jakarta. Walau tanpa restu keluarga, Sumadi tetap nekad. Ia yakin bisnis ini ada masa depannya. Di Jakarta ia mulai lagi sebuah bisnis baru dari nol.

Pertemuannya dengan Husaini Sanny, pemilik ruko di Jalan Juanda III No. 26 kembali membawa perubahan. Di ruko yang masih kosong saat itu, terbentuklah PT. Global Putra Indonesia. Sebuah bisnis air cargo yang beroperasi di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Izin operasi yang belum dimiliki tidak mematahkan tekad Sumadi. Ia membayar jasa untuk memakai bendera perusahaan lain. Kantornya pun hanya sebuah meja kecil dibawah pohon dengan dua orang pegawai.

Awal sebagai agen Global AirFreight di Indonesia, membawa Sumadi perlahan-lahan namun pasti mulai kenal dengan perusahaan forwarder luar negeri, salah satunya Air Express International (AEI) yang merupakan sepuluh besar forwarding company yang sudah terdaftar di Amerika Serikat. Sebagai agen forwarder tersebut, Sumadi semakin yakin bahwa bisnis ini akan "go international" maka timbullah ide untuk mengubah nama perusahaan menjadi Global Putra International (GPI).

Pada tahun 1988 GPI berhasil menjadi agen United Parcel Service (UPS) di Indonesia, sebuah perusahaan jasa servis antar terkemuka. Selain itu juga GPI Group berhasil bergabung dengan beberapa perusahaan forwarder yang sudah terkenal di dunia seperti Airborne dan Emery. Terakhir dengan Sagawa Express Group (Perusahaan Jasa Angkutan Jepang) dan Unique Group (Perusahaan Jasa Angkutan untuk Asia dan Eropa).

Namun keberhasilan tidak membuat Sumadi terhenti disini. Cita-citanya ingin menjadikan GPI Group sebagai integrated transport logistic company yang menguasai bisnis air forwarder, express courier (kurir kilat) dan shipping line (pelayaran).

Berkembang Menjadi Bisnis
Shipping

Terdengar kabar bahwa Wanhai Line (Perusahaan tiga besar Shipping Line Taiwan) sedang mencari agen untuk wilayah Asia. Tekad, semangat, pengalaman dan etos kerja yang baik membawa GPI Group pun berhasil menjadi agennya di Indonesia. Keberhasilan ini membuat Sumadi makin yakin untuk bisa menjalin kerjasama dengan shipping line lain potensial lainnya yang belum memiliki agen di Indonesia.

Sumadi mulai berpikir. Ada pasar Tiongkok yang belum terbuka saat itu. Ia mulai mencari jalan bagaimana untuk bisa masuk ke bisnis transportasi dari Tiongkok. Sumadi melihat Indonesia banyak mengekspor plywood (kayu lapis) ke manca negara, salah satunya adalah ke Tiongkok via Hongkong. Ekspor plywo

Posted by: Admin