Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Berita

Maknai Hari Pahlawan, GEMA INTI dan Beasiswa Pelangi Bangkitkan Spirit 10 November 1945

Tuesday, 11 Oct 2016



foto bersama selesai diskusi


GEMA INTI dan Beasiswa Pelangi INTI memaknai Hari Pahlawan dengan mengajak generasi muda untuk mengingat kembali spirit kepahlawanan pada peristiwa 10 November 1945. Kamis (10/11) pagi di akun media sosial, GEMA INTI dan Beasiswa Pelangi  selain mengunggah foto juga menyelipkan sebuah pertanyaan "Selamat Hari Pahlawan. Pengen tau nih masih pada inget nggak kenapa 10 November dijadikan Hari Pahlawan?". 

Peristiwa 10 November 1945 yang akhirnya ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional merupakan momen penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kala itu tentara Indonesia bersama rakyat Surabaya melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan memukul mundur tentara Sekutu yang ingin kembali menduduki Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan.

Spirit dari peristiwa heroik ini juga dibangkitkan kembali dalam diskusi Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) bertajuk "Membangkitkan Spirit Kepahlawanan: Dengan Jiwa Kepahlawanan, Mari Kobarkan Resolusi Jihad Menegakkan Rasa Kemanusiaan, Keadilan, dan Persatuan serta Cintai Tanah Air sebagai Bagian dari Iman ini" yang berlangsung pada siang hari di lantai 5 gedung PBNU, Jakarta Pusat. 

Sekjen GEMA INTI Yohanes Andrian beserta Ketua GEMA DKI Jakarta Albert Darmawan dan Ketua GEMA INTI Sulawesi Selatan Erfan Sutono bersama rombongan siswa-siswi asuh Program Beasiswa Pelangi INTI ikut hadir memeriahkan diskusi yang menghadirkan 3 orang narasumber itu, yaitu Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur, Ulung Rusman aktivis 98, dan Moses Latui Hamallo selaku Ketua Gerakan Kebangkitan Nusantara. 

Abdul Ghofur pada kesempatan itu menyoroti selama 71 tahun merdeka, Indonesia masih mengalami krisis nilai-nilai kepahlawanan, kebangsaan, nasionalisme, dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. “Bangsa Indonesia belum bisa menghilangkan sentimen ras terhadap sesama anak bangsa. Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini, baik secara vertikal maupun horisontal,” ujarnya.

Sedangkan Ulung yang baru saja menonaktifkan diri sebagai Wakil Sekjen INTI menambahkan, saat ini kondisi generasi muda bangsa sudah mulai menjauh, bahkan tidak sedikit yang melupakan perjuangan para pahlawan. "Fenomena hari ini, anak muda sangat mudah menokohkan seseorang sebagai pahlawan tanpa pikir panjang, tanpa kajian tentang orang yang akan dianggap sebagai pahlawan," ujarnya.

Sementara itu, Moses Latui Hamallo memberikan penekanan bahwa generasi muda jangan lepas dari tradisi dan budaya luhur bangsa Indonesia yang sejak dulu bernilai baik, terbuka, dan sarat nilai-nilai kebaikan. "Perjuangan kemerdekaan oleh seluruh anak bangsa cukup memberikan pelajaran bahwa negara ini berdiri di atas pondasi harmoni di tengah kemajemukan," tuturnya. 

Posted by: Admin