Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Artikel Lainnya

Success is a journey, not a destination

Tuesday, 16 Jan 2007


Teddy Sugianto atau Huang De Xin bukanlah nama asing bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Pembawaannya yang ramah, murah senyum, dan low profile membuat ia mudah bergaul dengan semua orang, apa pun latar belakang identitas sosialnya.
Hubungan baik dengan semua orang, tekun, kerja keras, dan menjaga kepercayaan, itulah nilai-nilai yang menuntunnya meniti gelombang hidup meraih prestasi. Selain itu, ia pun menekankan ‘luck’ sebagai faktor yang turut menentukan ‘kesuksesan’ seseorang.
Ya, Teddy Sugianto memilih kata “sukses” karena menurutnya bermakna lebih mendalam, “Sukses tidak identik dengan kepemilikan. Orang disebut sukses bila ia mengerjakan hal yang ia sukai, mencapai yang ia inginkan, dan merasa puas, bahagia karenanya.”
Keterbatasan bukanlah hambatan pencapaian sukses. Latar belakang keluarga dan bekal pendidikan bukanlah faktor penentu pencapai-
an sukses. Setidaknya itulah yang bisa disimpulkan dari perjalanan hidup seorang Teddy Sugianto.

Masa Kecil

Lahir pada 9 September 1942 di Jakarta, tepatnya kawasan Karang Anyar, Jakarta Pusat saat ini, Teddy Sugianto adalah anak sulung dari lima bersaudara.
Dilatarbelakangi kondisi ekonomi saat itu, pada usia tiga tahun Teddy kecil dibawa orang tua-
nya hijrah ke Guangdong, China. Enam tahun kemudian, orang tuanya kembali mencoba peruntung-
an hidup di Nusantara. Menginjak usia kesepuluh, karena ketidakcocokan astrologi dengan salah seorang adiknya, Teddy kecil dikirim orang tuanya ke Lampung untuk tinggal bersama seorang paman. Dua tahun tinggal di Lampung, ia kembali ke Jakarta.
Kerasnya pergulatan hidup membuat orang tua Teddy tak banyak membagi waktu untuk mendidik anak-anaknya. Teddy pun tumbuh dibesarkan lingkungan dan pergaulan.
“Saya tak pernah malu mengakui kenakalan saya semasa remaja. Dengan pengakuan itu saya ingin menunjukkan bahwa orang bisa merubah dan memperbaiki nasibnya.”
Menginjak usia enam belas tahun, sebagai imbas pergolakan politik di China, sekolah tempatnya menuntut ilmu ditu-
tup. Jadilah Teddy remaja berbekal ilmu setara kelas satu SMP terjun dalam perputaran roda ekonomi.
Tak puas dengan pekerjaan pertamanya sebagai penjaga toko milik seorang famili, Teddy mencoba peruntungan di dunia bisnis. Ketiadaan modal bukan alasan bagi Teddy untuk berkecil hati. Berawal dari membantu menjualkan beras dan minyak goreng dagangan orang dengan “laba” berupa karung dan kaleng bekas wadahnya, perlahan-lahan Teddy memiliki kios dan membuka usahanya sendiri. Tak mau berpuas diri dengan kemapanan, Teddy muda beberapa kali berganti usaha. Salah satunya adalah berdagang mie ayam. Dengan keuletan tangannya dalam menggiling adonan dan meracik bumbu, kelezatan mie dagangannya dikenal luas dan laris manis. Lagi-lagi Teddy tak mau berpuas diri.

Titik Balik Kehidupan

Hubungan baik dengan semua orang, tekun, kerja keras, dan menjaga kepercayaan. De-ngan bekal inilah Teddy mengawali usahanya sebagai pedagang semen. Berawal dari seratus sak semen yang dijualnya secara eceran, Teddy muda membidik kesempatan menjadi distributor. “Succeed is a journey, not a destination, so enjoy it.” Kalimat bijak ini rupanya dihayati benar oleh Teddy muda. Jadilah ia melakukan perjalanan ke toko-toko bahan bangunan seantero Jakarta, memperkenalkan diri, menawarkan dagangan. Tak diperlakukan semata sebagai rekan bisnis, Teddy memperlakukan agen, penyalur, dan para penge-cer di jaringannya sebagai teman dan sahabat. Teman dan sahabat inilah yang membesarkan bisnis distribusi semen yang ditekuni-
nya, berlanjut hingga dua puluh tahun kemudian, ketika jaringan distribusi yang dibangunnya terus menggurita ke berbagai pelosok nusantara, membuatnya boleh menepuk dada sebagai distributor semen terbesar di Indonesia.

Teddy dan Nasionalisme

“Kepemilikan uang bukanlah alasan yang cukup untuk membuat orang hijrah ke negara lain. Seorang pengusaha besar yang sangat mapan sekalipun akan berpikir ulang untuk meninggalkan Indonesia semata karena kerusuhan rasial dan ke-terpurukan ekonomi. Justru para pengusaha ini yang akan lebih berpikir panjang, karena di bahu mereka tersandar nasib dan hajat hidup ribuan orang: mitra bisnis, karyawan, beserta para keluar- ganya. Rasa tanggung jawab, juga kecintaan akan negeri ini, membuat mereka memilih untuk bertahan, walau atmosfer politik tak selalu berpihak pada komponen yang setelah berabad-abad masih dianggap sebagai anasir asing dan oleh karenanya pantas dikorbankan. Saya dan istri punya akses cukup untuk hijrah ke negara lain, demikian pula anak-anak saya, namun kami memilih bertahan. Kami lahir dan dibesarkan di negeri ini, minum air dari tanah ini, mendapat peruntungan dari tanah ini, maka kami pun memilih mati berkalang tanah ne

Posted by: Admin