Selamat datang di website Perhimpunan INTI

Event

INTI Pusat Adakan Dialog Terbuka Ekonomi dan Politik

Saturday, 04 Jul 2015 00:00


Event Date : Saturday, 11 Jul 2015

Pengurus Pusat Perhimpunan INTI dengan hormat mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menghadiri acara :

DIALOG TERBUKA  

Sabtu, 11 Juli 2015  

Pukul 09.00 - 17.00 WIB

di Aula Sekretariat Perhimpunan INTI (Office Tower B lantai 10, MGK Kemayoran, Jln. Angkasa kav. B6, Kemayoran – Jakarta Pusat)

 

Susunan Acara :

- Pukul 08.30 - 09.00 : Registrasi dan Welcome Coffee

- Pukul 09.00 - 13.00 WIB :  Sesi I “Quo Vadis Perekonomian Indonesia?”

Narasumber : Anton J. Supit (APINDO), Agustinus Prasentyatoko (Ekonom Unika Atmajaya), Faisal Basri (Ekonom, Dewan Pakar Perhimpunan INTI), Christianto Wibisono (Pusat Data Bisnis Indonesia, Dewan Pakar Perhimpunan INTI)

Kelesuan sedang menggelayuti roda perekonomian Indonesia. Dilaporkan penjualan di berbagai sektor tengah mengalami penurunan seperti tekstil, kendaraan bermotor, dan berbagai produk lainnya.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan sepanjang Januari sampai April 2015 penjualan automotif turun 16% dibandingkan bulan yang sama pada 2014. Sementara Gabungan Pengusaha Elektronik juga mencatat terjadi penurunan, penjualan produk elektronik anjlok antara 20%-40%. Begitu juga sektor properti, Real Estate Indonesia (REI) mencatat selama tiga bulan pertama tahun ini penjualan turun sebesar 30%-60%. Asosiasi Persepatuan Indonesia mencatat penjualan alas kaki mengalami penurunan penjualan sebesar 40%.

Gelombang PHK pun terjadi di mana-mana. Kementerian Tenaga Kerja mencatat 6 sektor usaha, yakni tekstil, alas kaki, pertambangan, jasa minyak bumi dan gas, automotif, serta semen mulai merumahkan sebagian pekerjanya karena kelesuan perekonomian. PHK juga terjadi di pabrik baja, perbankan dan pertambangan. Bahkan, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menyebut sudah setengah dari total pekerja yang mencapai 1 juta orang dirumahkan.

Situasi ini kian diperburuk dengan kondisi perekonomian dunia secara global juga sedang menurun. Yunani salah satu negara maju Eropa dilaporkan bangkrut karena gagal membayar hutang-hutangnya. Demikian pula dengan Tiongkok, tahun ini ekonominya diproyeksikan hanya tumbuh 6,8% jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mampu tumbuh di atas 10%.

Lesunya perekonomian dunia tentunya berdampak pula terhadap ekspor Indonesia. Komoditas ekspor andalan seperti kelapa sawit, karet, dan batu bara dilaporkan mengalami penurunan harga. Terpuruknya nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika juga menimbulkan kekuatiran tersendiri.

Namun kabar baiknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2015 masih bertahan di atas 4% (4,71%) sedangkan inflasi terkendali antara 1,99-2,1 per year-to-date. Walau lebih lambat dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,14%, namun ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibanding negara pengekspor minyak lainnya seperti Brasil dan Russia, yang pertumbuhan ekonominya menurun karena terlalu bergantung pada sektor migas.

Indonesia saat ini membutuhkan penanganan tepat dalam menghadapi perlambatan ekonomi, penurunan daya beli masyarakat, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan kesenjangan yang semakin melebar. Mau dibawa ke mana perekonomian Indonesia? Langkah konkret apa saja yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan elite politik?

- Pukul 13.00 - 14.00 : Istirahat dan Makan Siang

- Pukul 14.00 - 17.00 WIB : Sesi II “Perombakan Kabinet Kerja 2015”

Narasumber : Masinton Pasaribu (Anggota Komisi 3 DPR RI Fraksi PDI-P), Indra J. Piliang (Dewan Penasehat The Indonesia Institute, Dewan Pakar Perhimpunan INTI), Yunarto Wijaya (Pengamat Politik Charta Politica)

Perlambatan ekonomi yang dialami Indonesia belakangan ini mendorong munculnya wacana reshuffle atau perombakan Kabinet Kerja 2015. Kinerja para pembantu Presiden khususnya di bidang ekonomi mendapat sorotan tajam. Beberapa menteri dinilai mendapat raport kuning dan merah selama 6 bulan masa jabatannya.

Kerisauan mengenai situasi terkini perekonomian Indonesia sudah menghinggapi seluruh lapisan masyarakat. Dalam sebuah diskusi yang diadakan Kompas 2 bulan lalu, sejumlah ahli ekonomi, moneter, perbankan, dan praktisi bisnis menenggarai bahwa biang persoalan masalah ini bermula dari kurang baiknya aspek tata kelola pemerintahan.

Presiden Jokowi sendiri mengisyaratkan akan melakukan perombakan kabinet khususnya di bidang ekonomi ketika bertemu para pakar ekonomi Indonesia pada Senin 29 Juni lalu di Istana Merdeka. Sebelumnya dalam Sidang Kabinet Paripurna 15 Juni, Jokowi meminta seluruh menterinya untuk membuat laporan tertulis berupa laporan kerja yang telah dilakukan 6 bulan dan rencana kerja untuk 6 bulan ke depan sebagai bahan evaluasi pencapaian program Kabinet Kerja 2015.

Terlepas dari masalah ekonomi, dalam wacana reshuffle kali ini terselip juga kisah mengenai menteri ‘pengkhianat’ yang harus diganti karena melontarkan kata-kata yang tidak hormat kepada Presiden. Beredar pula rilis nama menteri yang terancam akan diganti karena mendapat rapor merah yaitu Tedjo Edhy Purdijatno (Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan), Sofyan Djalil (Menteri Koordinator Perekonomian), Bambang Brodjonegoro (Menteri Keuangan), dan Rachmat Gobel (Menteri Perdagangan).

Benarkah rilis tersebut? Siapa saja menteri yang dinilai memiliki rapor baik dan tidak? Bagaimana sebaiknya komposisi menteri dari kalangan partai dan non-partai? Apakah Koalisi Indonesia Hebat akan tetap mendominasi kabinet atau akan ada penambahan menteri dari Koalisi Merah Putih?

 

*Acara gratis dan terbuka utk umum

Info dan Pendaftaran : Telp. (021)2937-1205; SMS/WA. 0896-5151-5198

Posted by: Admin